Bicara tentang kejayaan peradaban
Islam di masa lalu, dan juga jatuhnya kemuliaan itu seperti nostalgia. Orang
bilang, romantisme sejarah. Tidak apa-apa, terkadang ada baiknya juga untuk
dijadikan sebagai bahan renungan. Karena bukankah masa lalu juga adalah bagian
dari hidup kita. Baik atau buruk, masa lalu adalah milik kita. Kaum muslimin,
pernah memiliki kejayaan di masa lalu. Masa di mana Islam menjadi trendsetter
sebuah peradaban modern. Peradaban yang dibangun untuk kesejahteraan umat
manusia di muka bumi ini.
Masa kejayaan itu bermula saat
Rasulullah mendirikan pemerintahan Islam, yakni Daulah Khilafah Islamiyah di
Madinah. Tongkat kepemimpinan bergantian dipegang oleh Abu Bakar as-Shiddiq,
Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan seterusnya. Di
masa Khulafa as-Rasyiddin ini Islam berkembang pesat. Perluasan wilayah menjadi
bagian tak terpisahkan dari upaya penyebarluasan Islam ke seluruh penjuru
dunia. Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Penaklukan
wilayah-wilayah, adalah sebagai bagian dari upaya untuk menyebarkan Islam,
bukan menjajahnya. Itu sebabnya, banyak orang yang kemudian tertarik kepada
Islam. Satu contoh menarik adalah tentang Futuh Makkah (penaklukan Makkah),
Rasulullah dan sekitar 10 ribu pasukannya memasuki kota Makkah. Kaum Quraisy
menyerah dan berdiri di bawah kedua kakinya di pintu Ka’bah. Mereka menunggu
hukuman Rasul setelah mereka menentangnya selama 21 tahun. Namun, ternyata
Rasulullah justru memaafkan mereka.
Begitu pula yang dilakukan oleh Shalahuddin
al-Ayubi ketika merebut kembali Yerusalem dari tangan Pasukan Salib Eropa, ia
malah melindungi jiwa dan harta 100 ribu orang Barat. Shalahuddin juga memberi
ijin ke luar kepada mereka dengan sejumlah tebusan kecil oleh mereka yang
mampu, juga membebaskan sejumlah besar orang-orang miskin. Panglima Islam ini
pun membebaskan 84 ribu orang dari situ. Malah, saudaranya, al-Malikul Adil,
membayar tebusan untuk 2 ribu orang laki-laki di antara mereka.
Padahal 90 tahun sebelumnya,
ketika pasukan Salib Eropa merebut Baitul Maqdis, mereka justru melakukan
pembantaian. Diriwayatkan bahwa ketika penduduk al-Quds berlindung ke Masjid
Aqsa, di atasnya dikibarkan bendera keamanan pemberian panglima Tancard. Ketika
masjid itu sudah penuh dengan orang-orang (orang tua, wanita dan anak-anak),
mereka dibantai habis-habisan seperti menjagal kambing. Darah-darah muncrat
mengalir di tempat ibadah itu setinggi lutut penunggang kuda. Kota menjadi
bersih oleh penyembelihan penghuninya secara tuntas. Jalan-jalan penuh dengan
kepala-kepala yang hancur, kaki-kaki yang putus dan tubuh-tubuh yang rusak.
Para sejarawan muslim menyebutkan jumlah mereka yang dibantai di Masjid Aqsa
sebanyak 70 ribu orang. Para sejarawan Perancis sendiri tidak mengingkari
pembantaian mengerikan itu, bahkan mereka kebanyakan menceritakannya dengan
bangga.
Fakta ini cukup membuktikan betapa
Islam mampu memberikan perlindungan kepada penduduk yang wilayahnya ditaklukan.
Karena perang dalam Islam memang bukan untuk menghancurkan, tapi memberi
kehidupan. Dengan begitu, Islam tersebar ke hampir sepertiga wilayah di dunia
ini.
Peradaban Islam memang mengalami
jatuh-bangun, berbagai peristiwa telah menghiasi perjalanannya. Meski demikian,
orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil ditorehkannya
untuk umat manusia ini. Pencerahan pun terjadi di segala bidang dan di seluruh
dunia.
Sejarawan Barat beraliran
konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban
Islam, ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu
pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam
satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki
prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.
Orientalis Sedillot seperti yang
dikutip Mustafa as-Siba’i dalam Peradaban Islam, Dulu, Kini, dan Esok,
mengatakan bahwa, “Hanya bangsa Arab pemikul panji-panji peradaban abad
pertengahan. Mereka melenyapkan barbarisme Eropa yang digoncangkan oleh
serangan-serangan dari Utara. Bangsa Arab melanglang mendatangi ‘sumber-sumber
filsafat Yunani yang abadi’. Mereka tidak berhenti pada batas yang telah
diperoleh berupa khazanah-khazanah ilmu pengetahuan, tetapi berusaha
mengembangkannya dan membuka pintu-pintu baru bagi pengkajian alam.”
Andalusia, yang menjadi pusat ilmu
pengetahuan di masa kejayaan Islam, telah melahirkan ribuan ilmuwan, dan
menginsiprasi para ilmuwan Barat untuk belajar dari kemajuan iptek yang
dibangun kaum muslimin.
Jadi wajar jika Gustave Lebon
mengatakan bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan
hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di
perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya itu,
Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah yang
dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da
Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, san Thomas, Albertus Magnus dan Alfonso
X dari Castella.
Buku al-Bashariyyat karya al-Hasan
bin al-Haitsam diterjemahkan oleh Ghiteleon dari Polska. Gherardo dari Cremona
menyebarkan ilmu falak yang hakiki dengan menerjemahkan asy-Syarh karya Jabir.
Belum lagi ribuan buku yang berhasil memberikan pencerahan kepada dunia. Itu
sebabnya, jangan heran kalau perpustakaan umum banyak dibangun di masa kejayaan
Islam. Perpustakaan al-Ahkam di Andalusia misalnya, merupakan perpustakaan yang
sangat besar dan luas. Buku yang ada di situ mencapai 400 ribu buah. Uniknya,
perpustakaan ini sudah memiliki katalog. Sehingga memudahkan pencarian buku. Perpustakaan
umum Tripoli di daerah Syam, memiliki sekitar tiga juta judul buku, termasuk
50.000 eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Dan masih banyak lagi perpustakaan
lainnya. Tapi naas, semuanya dihancurkan Pasukan Salib Eropa dan Pasukan Tartar
ketika mereka menyerang Islam.
Peradaban Islam memang peradaban
emas yang mencerahkan dunia. Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa dukungan
peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika
Barat berhutang budi pada Islam.
Empat belas abad yang silam, Allah
Ta’ala telah mengutus Nabi Muhammad saw sebagai panutan dan ikutan bagi umat
manusia. Beliau adalah merupakan Rasul terakhir yang membawa agama terakhir
yakni Islam. Hal ini secara jelas dan tegas dikemukakan oleh Al-Quran dimana
Kitab Suci tersebut memproklamasikan keuniversalan misi dari Muhammad saw
sebagaimana kita jumpai dalam ayat-ayat berikut ini:
“Katakanlah, “Wahai manusia ,
sesungguhnya aku ini Rasul kepada kamu sekalian dari Allah yang mempunyai
kerajaan seluruh langit dan bumi. Tak ada yang patut disembah melainkan Dia.”
(QS. 7:159).
“Dan kami tidaklah mengutus engkau
melainkan sebagai pembawa kabar suka dan pemberi peringatan untuk segenap
manusia…” (QS. 34:29).
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau
melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat…” (QS. 21:108).
Nabi Muhammad saw telah mengubah
pandangan hidup dan memberi semangat yang menyala-nyala kepada umat Islam,
sehingga dari bangsa yang terkebelakang dalam waktu yang amat singkat mereka,
mereka telah menjadi guru sejagat. Umat Islam menghidupkan ilmu, mengadakan
penyelidikan-penyelidikan. Fakta sejarah menjelaskan antara lain , bahwa Islam
pada waktu pertama kalinya memiliki kejayaan, bahwa ada masanya umat Islam
memiliki tokoh-tokoh seperti Ibnu Sina di bidang filsafat dan kedokteran, Ibnu
Khaldun di bidang Filsafat dan Sosiologi, Al-jabar dll. Islam telah datang ke
Spanyol memperkenalkan berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur,
aljabar, arsitektur, kesehatan, filsafat dan masih banyak cabang ilmu yang lain
lagi.
Masa Kejayaan Islam Pertama telah
menjadi bukti sejarah bahwa dengan mengamalkan ajaran al-Quran umat Islam
sendiri akan menikmati kemajuan peradaban dan kebudayaan diatas bumi ini. Di
masa Kejayaan Islam Pertama, pimpinan Islam berada di tangan tokoh-tokoh yang
setiap orangnya patuh sepenuhnya dan setia kepada Nabi Muhammad saw, baik
secara keimanan, keyakinan, perbuatan, akhlak, pendidikan, kesucian jiwa,
keluhuran budi maupun kesempurnaan.
Pimpinan Umat Islam sesudah
wafatnya nabi Muhammad saw, Abubakar, Umar, Utsman dan Ali adalah merupakan
pemimpin-pemimpin duniawi dengan jabatan Khalifah, yang menganggap kedudukan
mereka itu sebagai pengabdian pada umat Islam, bukan sebagai alat untuk
mendapatkan kekuasaan mutlak dan kemegahan. Dalam tiga abad pertama sejarah
permulaaan Islam (650-1000M), bagian-bagian dunia yang dikuasai Islam adalah
bagian-bagian yang paling maju dan memiliki peradaban yang tinggi.
Negeri-negeri Islam penuh dengan kota-kota indah, penuh dengan mesjid-mesjid
yang megah, dimana-mana terdapat perguruan tinggi dan Univesitas yang
didalamnya tersimpan peradaban-peradaban dan hikmah-hikmah yang bernilai tiggi.
Kecemerlangan Islam Timur merupakan hal yang kontras dengan dunia Nasrani
Barat, yang tenggelam dalam masa kegelapan zaman.
2. Pembahasan
Dinasti Abbasiyah adalah suatu
dinasti (Bani Abbas) yang menguasai daulat (negara) Islamiah pada masa klasik
dan pertengahan Islam. Daulat Islamiah ketika berada di bawah kekuasaan dinasti
ini disebut juga dengan Daulat Abbasiyah. Daulat Abbasiyah adalah daulat
(negara) yang melanjutkan kekuasaan Daulat Umayyah. Dinamakan Dinasti Abbasiyah
karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Abbas (Bani
Abbas), paman Nabi Muhammad saw. Pendiri dinasti ini adalah Abu Abbas
as-Saffah, nama lengkapnya yaitu Abdullah as-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn
Abdullah ibn al-Abbas.
Selama dinasti ini berkuasa, pola
pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,
sosial , dan budaya.
Berdasarkan perubahan pola
pemerintahan dan pola politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa
pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1. Periode Pertama (132 H/750 M –
232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia Pertama.
2. Periode Kedua (232 H/847 M – 234
H/945 M), disebut masa pengaruh Turki Pertama.
3. Periode Ketiga (334 H/945 M –
447 H/1055 M, masa kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khilafah
Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia Kedua.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M/
- 590 H/1194 M), masa kekuasaan Dinasti Saljuk dalam pemerintahan Khilafah
Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki Kedua.
5. Periode Kelima (590 H/1194 M –
656 H/1258 M), masa Khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi
kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Dalam zaman Daulah Abbasiyah, masa
meranumlah kesusasteraan dan ilmu pengetahuan, disalin ke dalam bahasa Arab,
ilmu-ilmu purbakala. Lahirlah pada masa itu sekian banyak penyair, pujangga,
ahli bahasa, ahli sejarah, ahli hukum, ahli tafsir, ahli hadits, ahli filsafat,
thib, ahli bangunan dan sebagainya.
Zaman ini adalah zaman keemasan
Islam, demikian Jarji Zaidan memulai lukisannya tentang Bani Abbasiyah. Dalam
zaman ini, kedaulatan kaum muslimin telah sampai ke puncak kemuliaan, baik
kekayaan, kemajuan, ataupun kekuasaan. Dalam zaman ini telah lahir berbagai
ilmu Islam, dan berbagai ilmu penting telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Masa Daulah Abbasiyah adalah masa di mana umat Islam mengembangkan ilmu
pengetahuan, suatu kehausan akan ilmu pengetahuan yang belum pernah ada dalam
sejarah.
Kesadaran akan pentingnya ilmu
pengetahuan merefleksikan terciptanya beberapa karya ilmiah seperti terlihat
pada alam pemikiran Islam pada abad ke-8 M. yaitu gerakan penerjemahan buku
peninggalan kebudayaan Yunani dan Persia.
Permulaan yang disebut serius dari
penerjemahan tersebut adalah sejak abad ke-8 M, pada masa pemerintahan
Al-Makmun (813 –833 M) yang membangun sebuah lembaga khusus untuk tujuan itu,
“The House of Wisdom / Bay al-Hikmah”. Dr. Mx Meyerhof yang dikutip oleh Oemar
Amin Hoesin mengungkapkan tentang kejayaan Islam ini sebagai berikut:
“Kedokteran Islam dan ilmu pengetahuan umumnya, menyinari matahari Hellenisme
hingga pudar cahayanya. Kemudian ilmu Islam menjadi bulan di malam gelap gulita
Eropa, mengantarkan Eropa ke jalan renaissance. Karena itulah Islam menjadi
biang gerak besar, yang dipunyai Eropa sekarang. Dengan demikian, pantas kita
menyatakan, Islam harus tetap bersama kita.” (Oemar Amin Hoesin)
Adapun kebijaksanaan para penguasa
Daulah Abbasiyah periode 1 dalam menjalankan tugasnya lebih mengutamakan kepada
pembangunan wilayah seperti: Khalifah tetap keturunan Arab, sedangkan menteri,
gubernur, dan panglima perang diangkat dari keturunan bangsa Persia. Kota
Bagdad sebagai ibukota, dijadikan kota internasional untuk segala kegiatan
ekonomi dan sosial serta politik segala bangsa yang menganut berbagai keyakinan
diizinkan bermukim di dalamnya, ada bangsa Arab, Turki, Persia, Romawi, Hindi
dan sebagainya.
Ilmu pengetahuan dipandang sebagai
suatu hal yang sangat mulia dan berharga. Para khalifah dan para pembesar
lainnya membuka kemungkinan seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu
pengetahuan. Pada umumnya khalifah adalah para ulama yang mencintai ilmu,
menghormati sarjana dan memuliakan pujangga.
Kebebasan berpikir sebagai hak
asasi manusia diakui sepenuhnya. Pada waktu itu akal dan pikiran dibebaskan
benar-benar dari belenggu taklid, hal mana menyebabkan orang sangat leluasa
mengeluarkan pendapat dalam segala bidang, termasuk bidang aqidah, falsafah,
ibadah dan sebagainya.
Para menteri keturunan Persia
diberi hak penuh untuk menjalankan pemerintahan, sehingga mereka memegang
peranan penting dalam membina tamadun/peradaban Islam. Mereka sangat mencintai
ilmu dan mengorbankan kekayaannya untuk memajukan kecerdasan rakyat dan
meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga karena banyaknya keturunan Malawy yang
memberikan tenaga dan jasanya untuk kemajuan Islam.
b. Latar Belakang dan
Faktor-faktor yang Memunculkan “Revolusi Abbasiyah”
Menjelang akhir daulah Umawiyah
(akhir abad pertama Hijriyah) terjadilah bermacam-macam kekacauan dalam segala
cabang kehidupan negara; terjadi kekeliruan dan kesalahan-kesalahan yang dibuat
oleh para khalifah dan para pembesar negara lainnya, terjadilah
pelanggaran-pelanggaranterhadap ajaran-ajaran Islam.
Di antara kesalahan-kesalahan dan
kekeliruan-kekeliruan yang diperbuat, yaitu:
- Politik kepegawaian negara
didasarkan pada klik, golongan, suku, kaum dan kawan (nepotisme)
- Penindasan yang terus-menerus
terhadap pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Thalib RA pada khususnya dan
terhadap Bani Hasyim (Hasyimiah) pada umumnya.
- Menganggap rendah terhadap kaum
muslimin yang bukan bangsa Arab, sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam
pemerintahan.
- Pelanggaran terhadap ajaran
Islam dan hak-hak asasi manusia dengan cara yang terang-terangan.
Prof. Dr. Hamka melukiskan keadaan
tersebut “Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, waktu itulah mulai
disusun dengan diam-diam propaganda untuk menegakkan Bani Abbas. Keadaan dan
cara Umar bin Abdul Aziz memerintah telah menyebabkan suburnya propaganda untuk
Daulat yang akan berdiri itu. Sebab sejak zaman Muawiyah Daulat Bani Umayyah
itu didirikan dengan kekerasan. Siasat yang keras dan licik, yang pada zaman
sekarang dalam ilmu politik disebut “Machiavellisme”, artinya mempergunakan
segala kesempatan, sekalipun kesempatan yang jahat untuk memperbesar kekuasaan.
Umpamanya memburuk-burukkan dan menyumpah Ali bin Abi Thalib RA dalam tiap
khutbah Jum’at; itu sudah terang tidak dapat diterima umat dengan rela hati.”
c. Kegemilangan Iptek di Masa
Khilafah Abasiyyah
Kekhilafahan Abbasiyah tercatat
dalam sejarah Islam dari tahun 750-1517 M/132-923 H. Diawali oleh khalifah Abu
al-’Abbas as-Saffah (750-754) dan diakhiri Khalifah al-Mutawakkil Alailah III
(1508-1517). Dengan rentang waku yang cukup panjang, sekitar 767 tahun,
kekhilafahan ini mampu menunjukkan pada dunia ketinggian peradaban Islam dengan
pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di dunia Islam.
Di era ini, telah lahir
ilmuwan-ilmuwan Islam dengan berbagai penemuannya yang mengguncang dunia. Sebut
saja, al-Khawarizmi (780-850) yang menemukan angka nol dan namanya diabadikan
dalam cabang ilmu matematika, Algoritma (logaritma). Ada Ibnu Sina (980-1037)
yang membuat termometer udara untuk mengukur suhu udara. Bahkan namanya tekenal
di Barat sebagai Avicena, pakar Medis Islam legendaris dengan karya ilmiahnya
Qanun (Canon) yang menjadi referensi ilmu kedokteran para pelajar Barat. Tak
ketinggalan al-Biruni (973-1048) yang melakukan pengamatan terhadap tanaman sehingga
diperoleh kesimpulan kalau bunga memiliki 3, 4, 5, atau 18 daun bunga dan tidak
pernah 7 atau 9.
Pada abad ke-8 dan 9 M, negeri
Irak dihuni oleh 30 juta penduduk yang 80% nya merupakan petani. Hebatnya,
mereka sudah pakai sistem irigasi modern dari sungai Eufrat dan Tigris.
Hasilnya, di negeri-negeri Islam rasio hasil panen gandum dibandingkan dengan
benih yang disebar mencapai 10:1 sementara di Eropa pada waktu yang sama hanya
dapat 2,5:1.
Kecanggihan teknologi masa ini
juga terlihat dari peninggalan-peninggalan sejarahnya. Seperti arsitektur
mesjid Agung Cordoba; Blue Mosque di Konstantinopel; atau menara spiral di
Samara yang dibangun oleh khalifah al-Mutawakkil, Istana al-Hamra (al-Hamra
Qasr) yang dibangun di Seville, Andalusia pada tahun 913 M. Sebuah Istana
terindah yang dibangun di atas bukit yang menghadap ke kota Granada.
Kekhilafahan Abbasiyah dengan
kegemilangan ipteknya kini hanya tercatat dalam buku usang sejarah Islam. Tapi
jangan khawatir, someday Islam akan kembali jaya dan tugas kita semua untuk
mewujudkannya.
Dinasti Abbasiyiah membawa Islam
ke puncak kejayaan. Saat itu, dua pertiga bagian dunia dikuasai oleh
kekhalifahan Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar